• Image
  • Image

Pimpinan, Hakim dan Segenap Pegawai Mengucapkan Selamat Atas Diresmikanya 85 Pengadilan baru oleh Ketua Mahkamah Agung RI

 
Rating: Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang (0/5)

“PERAN DAN FUNGSI DEWAN PENGAWAS SYARI’AH PADA LEMBAGA KEUANGAN SYARI’AH”

Oleh:
RENY HIDAYATI

 

Perkembangan lembaga keuangan syariah di Indonesia saat ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Perkembangan lembaga keuangan syariah tersebut meliputi perkembangan perbankan syariah, asuransi syariah, pasar modal syariah, reksadana syariah, obligasi syariah, leasing syariah, Baitul Mal wat Tamwil, koperasi syariah, pegadaian syariah dan berbagai bentuk bisnis syariah lainnya.

Dalam mengembangkan dan memajukan lembaga keuangan syariah, agar dapat bersaing dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat bisnis modern, dibutuhkan inovasi-inovasi produk dengan tetap mematuhi prinsip-prinsip syariah. Untuk mengoptimalkan terlaksananya prinsip syariah dalam menjalankan semua kegiatan dalam perbankan syariah maka diperlukan adanya pengawasan. Sehingga dibentuklah suatu lembaga yaitu Dewan Pengawas Syariah yang secara internal berfungsi sebagai badan pengawas syariah dan secara eksternal dapat menjaga serta meningkatkan kepercayaan masyarakat.

Adanya Dewan Pengawas Syariah atau disingkat DPS ini menjadi ciri khusus yang membedakan lembaga-lembaga keuangan konvensional dengan lembaga-lembaga keuangan syariah, karena keberadaannya bagi lembaga keuangan syariah adalah suatu keharusan. Dewan pengawas syariah merupakan dewan pakar ekonomi dan ulama yang menguasai bidang fiqh mu’amalah (Islamic commercial jurisprudence) yang berdiri sendiri dan bertugas mengamati dan mengawasi operasional lembaga keuangan syariah dan produk-produknya agar sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariat Islam, yaitu dengan mengawasi secara teliti bagaimana bentuk-bentuk perikatan/akad yang dilaksanakan oleh lembaga keuangan syariah.

Selengkapnya KLIK DISINI

Rating: Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang (0/5)

 

 

“MARHABAN YA RAMADHAN”

Oleh:
TAUFIKURRAHMAN

 

Pergantian waktu, hari, minggu dan bulan dilalui tak terasa, kini ramadhan 1438 H diambang pintu. Insya Allah esok Sabtu 27 Mei 2017 umat Islam memulai puasa. Kita patut bersyukur, karena Allah Swt telah mengabulkan do’a-do’a yang dipanjatkan hamba-hambaNya sejak bulan Rajab. Allahumma baarik lanaa rajab wa syakban wa balligna ramadhan. (Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Syakban serta sampaikan kami ke bulan Ramadhan).

Ucapan marhaban ya ramadhan sering terdengar dikalangan keluarga, shahabat dan handai tolan baik yang langsung diucapkan saat bertemu maupun melalui ponsel yang dikirim lewat pesan singkat sms (short message service) atau bbm (blackberry messenger) dan media sosial lainnya. Sebuah pertanda setiap orang selalu menantikan dan memperhatikan serta gembira menyambut tibanya bulan suci ramadhan yang penuh berkah dan mulia itu.

Kalimat marhaban ya ramadhan merupakan ucapan selamat datang kepada bulan ramadhan. Ucapan tersebut menurut Dr. M. Quraish Shihab mengandung arti bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan, tidak menggerutu, tetapi dengan suasana nyaman. Karena itu kalimat yang kita ucapkan adalah marhaban ya ramadhan bukan kata Ahlan wasahlan yang digunakan menyambut bulan suci, agar kita berharap jiwa raga kita dapat diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah Swt.

Selengkapnya KLIK DISINI

Rating: Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangNonaktifkan Bintang (4/5)

“EKSISTENSI KLAUSUL ARBITRASE DALAM PENENTUAN PENYELESAIAN SENGKETA SYARIAH”

Oleh:
RENY HIDAYATI

 

Lahirnya penerapan sistem ekonomi syariah di Indonesia khususnya dengan makin berkembangnya perbankan syariah, di mana transaksi perjanjian (akad) perbankan syariah juga dilakukan berlandaskan kepada prinsip syariah, telah menjadikan lembaga peradilan agama dengan kewenangan absolutnya sebagai tempat penyelesaian apabila terjadi sengketa (dispute) di antara para pihak yang melakukan perjanjian/akad di bidang ekonomi syariah.

Telah menjadi sebuah kelaziman dalam setiap transaksi bisnis syariah termasuk transaksi perbankan syariah adalah selalu berdasarkan suatu perjanjian atau akad (agreement) tertulis yang disepakati para pihak. Perjanjian tersebut menjadi undang-undang bagi kedua belah pihak, di mana masing-masing pihak terikat dengan isi perjanjian yang telah dibuat tersebut.

Dalam hal mengantisipasi terjadinya sengketa di antara para pihak, maka telah menjadi sebuah kelaziman pula bahwa dalam setiap perjanjian selalu dimuat suatu klausul berupa persetujuan atau kesepakatan mengenai cara penyelesaian sengketa yang mungkin timbul dari perjanjian tersebut. Biasanya klausul tersebut akan menunjuk cara penyelesaian sengketa di luar jalur litigasi atau melalui suatu badan arbitrase. Klausul semacam inilah yang disebut dengan klausul arbitrase (arbitration clause) atau disebut juga dengan perjanjian arbitrase...

Selengkapnya KLIK DISINI

Rating: Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang (0/5)

“TAHUN BARU ISLAM 1438 H.”

Oleh:
TAUFIKURRAHMAN

 

Tahun 1437 Hijriah telah berlalu, kini tahun 1438 Hijriah kita jalani. Ada pemandangan yang berbeda dalam menyambut pergantian tahun baru masehi dengan tahun baru hijriah. Jika tahun baru masehi disambut dengan meriah, mewah, bahkan terkesan glamor dan hura-hura. Dimana-mana terdengar bunyi terompet, petasan dan kembang api yang menjulang tinggi menghiasi langit, tempat-tempat hiburan dipenuhi oleh orang-orang yang ingin merayakan pergantian tahun. Semua menunggu saatnya jarum jam menunjukan pukul 00.00 tiba. Tua muda, laki-laki dan wanita berbaur dalam merefleksikan kegembiraan menyambut pergantian tahun itu.

Pemandangan yang sangat kontras terjadi saat pergantian tahun baru hijriah, tahun barunya umat Islam. Tak ada bunyi terompet, petasan, apalagi kembang api. Suasana menyambut tahun baru Islam itu penuh dengan evalasi diri. Orang-orang Islam menyambutnya dengan do’a dan istighfar. Dengan khusyu’ dan tawadhu’nya mereka berdo’a memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan yang telah dilakukan selama setahun yang lalu. Karena itu ada sebagian ulama yang menganjurkan untuk berdo’a di akhir tahun dan di awal tahun. Sebuah usaha untuk mengevaluasi segala amal yang dikerjakan selama ini.

Evaluasi diri atau muhasabah perlu dilakukan, terutama saat bergantinya tahun. Dengan muhasabah dan evaluasi diri akan diketahui mana yang lebih banyak dilakukan, apakah amal shaleh ataukah amal salah. Jika amal shaleh yang lebih banyak dilakukan selama setahun yang lalu, maka patut bersyukur dan berusaha untuk meningkatkannya. Tetapi bila amal salah yang lebih banyak dari pada amal shaleh, maka penyesalan dan permohonan ampun kepada Allah Swt sangat pastas dilakukan.

Selengkapnya KLIK DISINI

Rating: Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang (0/5)

“PERAN DAN FUNGSI DEWAN PENGAWAS SYARI’AH PADA LEMBAGA KEUANGAN SYARI’AH”

Oleh:
RENY HIDAYATI

 

Perkembangan lembaga keuangan syariah di Indonesia saat ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Perkembangan lembaga keuangan syariah tersebut meliputi perkembangan perbankan syariah, asuransi syariah, pasar modal syariah, reksadana syariah, obligasi syariah, leasing syariah, Baitul Mal wat Tamwil, koperasi syariah, pegadaian syariah dan berbagai bentuk bisnis syariah lainnya.

Dalam mengembangkan dan memajukan lembaga keuangan syariah, agar dapat bersaing dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat bisnis modern, dibutuhkan inovasi-inovasi produk dengan tetap mematuhi prinsip-prinsip syariah. Untuk mengoptimalkan terlaksananya prinsip syariah dalam menjalankan semua kegiatan dalam perbankan syariah maka diperlukan adanya pengawasan. Sehingga dibentuklah suatu lembaga yaitu Dewan Pengawas Syariah yang secara internal berfungsi sebagai badan pengawas syariah dan secara eksternal dapat menjaga serta meningkatkan kepercayaan masyarakat.

Adanya Dewan Pengawas Syariah atau disingkat DPS ini menjadi ciri khusus yang membedakan lembaga-lembaga keuangan konvensional dengan lembaga-lembaga keuangan syariah, karena keberadaannya bagi lembaga keuangan syariah adalah suatu keharusan. Dewan pengawas syariah merupakan dewan pakar ekonomi dan ulama yang menguasai bidang fiqh mu’amalah (Islamic commercial jurisprudence) yang berdiri sendiri dan bertugas mengamati dan mengawasi operasional lembaga keuangan syariah dan produk-produknya agar sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariat Islam, yaitu dengan mengawasi secara teliti bagaimana bentuk-bentuk perikatan/akad yang dilaksanakan oleh lembaga keuangan syariah.

Selengkapnya KLIK DISINI